Tiban Baru dan Tiban Lama Resmi Dikukuhkan sebagai Kelurahan Siaga TB Pertama di Kota Batam”

Puskesmas Tiban Baru – Komitmen memperkuat upaya pengendalian Tuberkulosis (TB) terus dilakukan di Kota Batam. Puskesmas Tiban Baru secara resmi mengukuhkan Kelurahan Tiban Baru dan Kelurahan Tiban Lama sebagai Kelurahan Siaga TB dalam sebuah kegiatan yang berlangsung di Auditorium Institut Teknologi Batam (ITEBA), Selasa (16/6/2026).
Kegiatan yang disertai dengan talkshow kesehatan tersebut menjadi tonggak penting dalam mendukung percepatan eliminasi TB di Kota Batam. Program ini sekaligus menandai pelaksanaan deklarasi Kelurahan Siaga TB pertama yang digagas oleh puskesmas di Kota Batam sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan, penemuan kasus, serta pendampingan pasien TB.
Acara tersebut dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Batam, Drs. Yusfa Hendri, M.Si., yang mewakili Pemerintah Kota Batam, bersama perwakilan Dinas Kesehatan Kota Batam, tenaga kesehatan, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Puskesmas Tiban Baru, dr. Hilda Insyafri, menyampaikan bahwa keberadaan Kelurahan Siaga TB merupakan langkah nyata dalam membangun keterlibatan masyarakat untuk mendukung program pengendalian TB hingga ke tingkat lingkungan terkecil.
Menurutnya, kader Kelurahan Siaga TB memiliki peran penting dalam mendampingi pasien selama menjalani pengobatan, melakukan pelacakan kontak erat, serta membantu menemukan kasus-kasus TB yang belum terdeteksi di masyarakat.
“Kami ingin memastikan setiap pasien mendapatkan dukungan selama proses pengobatan hingga sembuh. Selain itu, kader juga berperan aktif dalam menemukan kasus baru dan melakukan edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain memperkuat sistem penanggulangan TB, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit TB dan mengurangi stigma terhadap penderitanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Batam, Meldasari, menegaskan bahwa Tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan apabila penderita menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak memberikan diskriminasi atau stigma kepada pasien TB. Sebaliknya, masyarakat diharapkan memberikan dukungan agar pasien dapat menyelesaikan pengobatan secara tuntas.
“TB bukan penyakit yang harus ditakuti secara berlebihan. Dengan pengobatan yang teratur dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, penyakit ini dapat dikendalikan dan disembuhkan,” jelasnya.
Meldasari juga menekankan pentingnya pemberian imunisasi BCG pada bayi sebagai salah satu upaya perlindungan dini terhadap risiko Tuberkulosis pada anak.
Sementara itu, dokter penanggung jawab program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Puskesmas Tiban Baru, dr. Masitha Ayuni, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai target eliminasi TB nasional pada tahun 2030.
Menurutnya, kader dan masyarakat berperan sebagai mitra strategis puskesmas dalam menemukan kasus terduga TB lebih cepat, melakukan investigasi kontak, serta memberikan dukungan kepada pasien selama menjalani terapi.
Saat ini masih terdapat puluhan pasien TB yang menjalani pengobatan di wilayah kerja Puskesmas Tiban Baru. Untuk meningkatkan penemuan kasus, masyarakat juga dapat memanfaatkan sistem pelaporan yang telah disediakan apabila menemukan warga dengan gejala TB, seperti batuk berkepanjangan.
Dalam pelaksanaan program, kader bersama petugas kesehatan melakukan kunjungan rumah untuk memeriksa anggota keluarga dan kontak erat pasien. Langkah ini bertujuan mendeteksi kasus sejak dini sekaligus memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kelompok yang berisiko tertular.
dr. Masitha juga menjelaskan bahwa pasien TB tidak perlu dipisahkan dari keluarganya selama menjalani pengobatan. Risiko penularan akan menurun secara signifikan setelah pasien menjalani terapi secara teratur, terutama setelah melewati masa awal pengobatan.
“Pasien tetap dapat beraktivitas bersama keluarga dengan tetap menerapkan etika batuk dan menggunakan masker pada fase awal pengobatan untuk mengurangi risiko penularan,” katanya.
Melalui pembentukan Kelurahan Siaga TB di Tiban Baru dan Tiban Lama, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dalam upaya pencegahan serta pengendalian Tuberkulosis. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mewujudkan Batam bebas TB dan mendukung target eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030.































